Mentadabburi Surat An-Nashr
Tadabbur Surat An-Nashr
Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh, Alhamdulillah, Allahumma shalli 'ala Nabiyyina Muhammad Amma ba'du
Berikut penjelasan terkait surat An-Nashr
Tadabbur Surat An-Nashr
بِسْمِ الله الرَّحمنِ الرّحيمِ
اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ (1) وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًا (2)
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا (3)
1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan
2. dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah
3. bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat
***
1-Turunnya surat At-Taudi’
Surat An-Nashr dikenal juga dengan surat At-Taudi’ yang artinya surat perpisahan (tafsir Al Qurthubi 20/229). Walaupun surat ini menjelaskan tentang peristiwa fathu makkah, surat ini tidak turun bertepatan dengan peristiwa tersebut (8 Hijriah), melainkan turun dua tahun setelah peristiwa tersebut yaitu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam haji wadaa’(haji perpisahan) pada 10 Hijriah.
Surat An-Nashr atau surat At-Taudi’ ini merupakan surat terakhir yang diturunkan secara lengkap, walaupun ada ayat-ayat yang turun setelahnya. Namun sebagai surat yang diturunkan secara lengkap, surat An-Nashr atau surat At-Taudi’ ini merupakan surat terakhir. Wallahu A’lam
Terkait surat ini Imam bukhari meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pernah berkata :
كَانَ عُمَرُ يُدْخِلُنِي مَعَ أَشْيَاخِ بَدْرٍ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لِمَ تُدْخِلُ هَذَا الفَتَى مَعَنَا وَلَنَا أَبْنَاءٌ مِثْلُهُ؟ فَقَالَ: إِنَّهُ مِمَّنْ قَدْ عَلِمْتُمْ
“Khalifah Umar memasukkan diriku ke dalam majlis orang-orang tua yang ikut dalam Perang Badar. Maka beberapa dari mereka berkata, "Mengapa orang seusia dia dimasukkan ke dalam golongan kita, padahal kita mempunyai anak-anak yang seusia dengannya." maka Umar radhiyallahu ‘anhu menjawab, "Sesungguhnya dia termasuk seseorang yang telah kalian ketahui."
قَالَ: فَدَعَاهُمْ ذَاتَ يَوْمٍ وَدَعَانِي مَعَهُمْ قَالَ: وَمَا رُئِيتُهُ دَعَانِي يَوْمَئِذٍ إِلَّا لِيُرِيَهُمْ مِنِّي، فَقَالَ: مَا تَقُولُونَ فِي إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالفَتْحُ، وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا حَتَّى خَتَمَ السُّورَةَ،
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu melanjutkan perkataannya, “Pada suatu hari Umar radhiyallahu ‘anhu memanggil mereka, dan ia memasukkan diriku ke dalam golongan mereka. Dan aku mengerti bahwa dia (Umar rahiyallahu ‘anhu) memanggilku dan menggabungkan diriku bersama mereka di hari itu dengan tujuan hendak memperlihatkan kadar ilmuku kepada mereka. Lalu Umar radhiyallahu ‘anhu membuka pembicaraan, "Bagaimanakah pendapat kalian tentang makna firman Allah subhanahu wa ta’ala Idza Jaa’a Nasrullahi walFath, wa roaitannaasa yadkhuluuna fii diinillahi afwajaa (An-Nasr: 1&2) sampai akhir surat.
فَقَالَ بَعْضُهُمْ: أُمِرْنَا أَنْ نَحْمَدَ اللَّهَ وَنَسْتَغْفِرَهُ إِذَا نُصِرْنَا وَفُتِحَ عَلَيْنَا، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: لاَ نَدْرِي، أَوْ لَمْ يَقُلْ بَعْضُهُمْ شَيْئًا
Maka sebagian dari mereka menjawab.”Ayat ini memerintahkan kepada kita untuk memuji Allah dan memohon ampunan kepada-Nya, apabila kita peroleh kemenangan dan pertolongan." Dan sebagian dari mereka berkata, “kami tidak tahu”. Dan bahkan sebagiannya hanya diam, tidak mengatakan sepatah kata pun.
فَقَالَ لِي: يَا ابْنَ عَبَّاسٍ، أَكَذَاكَ تَقُولُ؟ قُلْتُ: لاَ، قَالَ: فَمَا تَقُولُ؟ قُلْتُ: هُوَ أَجَلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْلَمَهُ اللَّهُ لَهُ: إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالفَتْحُ فَتْحُ مَكَّةَ، فَذَاكَ عَلاَمَةُ أَجَلِكَ: فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا. قَالَ عُمَرُ: مَا أَعْلَمُ مِنْهَا إِلَّا مَا تَعْلَمُ
Maka Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepadaku, "Wahai Ibnu Abbas, Apakah demikian pula menurutmu" Aku pun menjawab, "Tidak." Umar radhiyallahu ‘anhu kembali berkata, "Bagaimanakah menurutmu?", maka aku menjawab, bahwa itu merupakan pertanda dekatnya ajal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diberitahukan kepadanya oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: Idza Jaa’a Nasrullahi walFath Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, ini adalah peristiwa fathu makkah. (An-Nasr: 1) maka itulah tanda dekatnya ajalmu. Fasabbih bihamdi rabbika wastaghfirhu Innahu kaana tawwaaba maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat. (An-Nasr: 3) maka Umar ibnu Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, "Aku tidak mengetahui tentang surat ini kecuali yang engkau ketahui." (HR Bukhari 4294).
2-Tafsir Isyariy wafatnya Rasulullah shlallallahu ‘alaihi wa sallam
Sebagian ulama juga menjelaskan bahwa firman Allah subhanahu wa ta’ala Wastaghfirhu(dan mohon ampunlah kepadanya) merupakan at-tafsiirul-isyariy yang menunjukkan wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beberapa riwayat menjelaskan bahwa ketika ada salah seorang yang mendekati ajalnya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memerintahkan orang tersebut untuk beristighfar, memohon ampun kepada Allah. Maka Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk beristighfar ialah merupakan isyarat yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat pada tahun itu juga.
3-Adab berdiskusi
Syaikh Dr. Hilal Sanad hafizhahullah pernah menjelaskan terkait pelajaran penting yang dapat diambil dari kisah ini, antara lain ialah : 1) berdiskusi atau mentadabburi sesuatu akan sangat baik dimulai dengan pertanyaan, karena Umar radhiyallahu ‘anhu memulai diskusi dengan pertanyaan. 2) Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu tidak berbicara sepatah katapun, ia diam sehingga Umar radhiyallahu ‘anhu melempar pertanyaan kepadanya. Dan ini merupakan adab yang sangat mulia yang ditunjukkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia menghormati para senior (sepuh badar) yang bersamanya. 3) Umar radhiyallahu ‘anhu memiliki ketawadhu’an ketika mengajak para sahabat berdiskusi ia tidak gengsi mengajak anak muda yang memang memiliki keilmuan yang tinggi, dan dalam majlis itu Umar rahdiyallahu ‘anhu sama sekali tidak menyombongkan dirinya.
4-Fathu Makkah
Kemudian ayat kedua dalam surat An-Nashr ini menyebutkan “dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong”. Oleh para ulama tafsir disebutkan bahwa para kabilah Arab mengatakan, “kalau Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam) berhasil mengalahkan kaumnya (kaum Quraisy) maka dia benar-benar seorang nabi”. Dan ternyata benarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalahkan Kaum Quraisy pada peristiwa fathu makkah, dan kemudian kabilah-kabilah Arab mulai banyak yang masuk islam. Karena memang inilah yang para kabilah-kabilah Arab tunggu sebagai pembuktian kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
5-Bertasbih dan bestahmid
Ayat ketiga dalam surat An-Nashr/At-Taudi’ menyebutkan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala “bertasbih dan tahmidlah kepada Rabbmu dan mintalah ampunan pada-Nya”. Di dalam sebuah riwayat dijelaskan Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ نَزَلَ عَلَيْهِ "إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللهِ وَالْفَتْحُ" يُصَلِّي صَلَاةً إِلَّا دَعَا. أَوْ قَالَ فِيهَا "سُبْحَانَكَ رَبِّي وَبِحَمْدِكَ، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي"
“Aku tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah turun firman Allah “Idza jaa’a Nasrullahi Walfath” Surat An-Nashr/At-Taudi’ ketika shalat melainkan Ia shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdoa dalam shalat Subhanaka Rabbi Wa Bihamdika, Allahummagfir Lii“Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb ku, dan pujian untuk-Mu, Ya Allah ampunilah aku” (HR Muslim no 484)
Dalam riwayat lain Aisyah radhiyallahu ‘anha juga berkata :
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ فِى رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ” سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى” يَتَأَوَّلُ الْقُرْآنَ
“Rasulullah shallallahu ‘alaih wasalam sering kali membaca dalam ruku’ dan sujudnya doa سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى “Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, pujian untuk-Mu, ampunilah aku”, beliau mengamalkan Al-Qur’an”. (HR Al-Bukhari no 817 dan Muslim no 484)
6-Pelajaran penting bagi pendakwah
Salah satu pelajaran penting yang dapat kita ambil dari ayat ketiga ini ialah perintah Allah subhanahu wa ta’ala untuk beristighfar kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah dakwah yang dilakukan dengan cara yang terbaik, dan di ujung dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam Allah ta’ala memberi perintah untuk beristighfar. Pelajaran penting ini perlu direnungi oleh para pendakwah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tentunya dakwahnya tidak sebaik Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja memperbanyak istighfar setelah dakwahnya, maka para pendakwah lain tentunya harus berusaha memperbanyak istighfar setelah dakwah yang dilakukannya. Memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan yang semua manusia tidak luput darinya, terlebih lagi godaan setan seperti ‘ujub, riya’, sum’ah seringkali menggoda dan menggelitiki hati para pendakwah.
Sebelum perintah Istighfar dalam ayat ini juga ada perintah untuk berdzikir (bertasbih dan bertahmid), oleh karena surat ini merupakan surat penutup dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seakan-akan Allah mengisyaratkan kepada para pendakwah agar selain berdakwah juga memperbanyak ibadah berupa berdzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
***
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kita semua taufik dan hidayahnya sehingga kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi, memperbanyak tadabbur Al-Qur’an, memperbanyak tasbih, tahmid dan istighfar, memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin, Wallahu A’lam
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
~Dilan Laksaputra
Komentar
Posting Komentar