Mentadabburi Surat An-Nas
Mentadabburi Surat An-Nas
Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh, Alhamdulillah Allahumma shalli 'ala Nabiyyina Muhammad, Amma ba'du
berikut pembahan singkat terkait surat AnNas, semoga bermanfaat bagi kita
Tadabbur Surat An-Nas
بِسْمِ الله الرحمن الرَّحِيمِ
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) اِلٰهِ النَّاسِ (3)
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4)
الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاس (6)
1. Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhannya manusia,
2. Raja manusia,
3. sembahan manusia,
4. dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi,
5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
6. dari (golongan) jin dan manusia”.
***
1-Berlindung kepada Allah
Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita sebagai hambanya supaya kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari waswas, serta bisikan setan baik itu dari golongan jin dan manusia.
Allah ta’ala memulai dengan tiga ayat yang menunjukkan sifat Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala Ialah Tuhannya manusia, Yang manusia memohon perlindungan tentunya hanya kepada-Nya dan bukan kepada selain Allah. Kemudian pada ayat kedua Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa Allah ta’ala Ialah Rajanya manusia, hal ini mencakup kekuasaan Allah ta’ala yang tiada duanya baik dunia maupun akhirat. Dan yang ketiga Allah ta’ala menyebutkan bahwa Ialah Ilah/Sesembahan manusia, dan tentunya ketika kita membaca ayat ketiga ini kita harus benar-benar menguatkan dalam hati kita bahwasanya tiada sesembahan yang patut disembah malainkan Allah subhanahu wa ta’ala.
2-Setan yang bersembunyi, menunggu dan kembali
Ayat keempat dalam surat ini menyebutkan hal yang darinya kita diperintahkan untuk memohon perlindungan pada Allah subhanahu wa ta’ala. “dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi”. Secara bahasa alkhonnas juga memiliki arti arrojja’ “yang selalu/sering kembali”, yaitu setan bersembunyi dan menjauh jika manusia mengingat Allah, dan kembali lagi ketika manusia lalai. (Tafsir al-Baghowi 8/597) selain itu juga, kata alkhonnas bisa diartikan menunggu-nunggu, hal ini menunjukkan bahwa setan selalu menunggu celah saat manusia sedang lalai kemudia ia segera membisikkan kejahatan kepada manusia. Kata khonnas secara bahasa juga merupakan shigah mubalaghah (rumus berlebih) yang menunjukkan makna tambahan/penguatan terhadap sesuatu. Oleh karenanya khonnas ini bermakna sering bersembunyi/menunggu-nunggu/kembali. Wallahu A’lam
Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat ini memberi perintah yang sangat kompleks untuk berlindung terhadap alwaswasilkhonnas “bisikan yang menunggu-nunggu/bersembunyi”. Allah ta’ala tidak hanya menyebut alwaswas (bisikan) saja, dan tidak pula menyebut alkhonnas (bersembunyi/menunggu-nunggu/kembali) saja, melainkan menyebutkan keduanya. Hal ini menunjukkan bahwa godaan setan sangatlah berbahaya, karena ia merupakan bisikan yang menjadi sumber segala kejahatan, dan di samping itu pula bisikan kejahatan tersebut selalu kembali dan menunggu detik-detik lalainya manusia.
(semoga Allah selalu memberikan kita perlindungan serta kekuatan dalam mempertahankan keimanan kita, sehingga kita terhindar dari hal-hal yang dapat menyebabkan kita melakukan sesuatu yang tidak diridhoi Allah subhanahu wa ta’ala, Allahulmusta’an.)
3-Bisikan keburukan (Syarril-waswas)
Bisikan keburukan merupakan hal yang membahayakan, bahkan ketika manusia menjalankan kebaikan pun setan selalu berusaha untuk membuat amalan manusia sia-sia dan bahkan justru berbuah dosa. Seringkali menggoda manusia agar ia berbangga/ujub terhadap amalan yang ia lakukan, menggoda manusia agar ia riya’(suka dilihat orang) dan sum’ah(suka didengar orang). Dan bukan hanya itu, ketika setan tidak mampu membuat manusia riya’ ia membisikkan kepada manusia agar tidak beramal karena takut ‘ujub, riya’ dan sum’ah.
Bisikan keburukan dari setan bisa timbul kapan saja, oleh karenanya para ulama merumuskan, ketika terbersit dalam dada hamba Allah hal yang tidak diridhoi Allah, ia harus segera memohon perlindungan kepada Allah, mengucap A’udzubillah minassyaithoonirrojim dan segera beristighfar memohon ampunan Allah subhanahu wa ta’ala.
Dari Shafiyyah binti Huyay radhiyallahu ‘anha (Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), ia berkata, “Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang beri’tikaf, lalu aku mendatangi beliau. Aku mengunjunginya di malam hari. Aku pun bercakap-cakap dengannya. Kemudian aku ingin pulang dan beliau berdiri lalu mengantarku. Kala itu rumah Shofiyah di tempat Usamah bin Zaid. Tiba-tiba ada dua orang Anshar lewat. Ketika keduanya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mempercepat langkah kakinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Pelan-pelanlah, sesungguhnya wanita itu adalah Shofiyah binti Huyay.” Keduanya berkata, “Subhanallah, wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan menyusup dalam diri manusia melalui aliran darah. Aku khawatir sekiranya setan itu menyusupkan kejelekan dalam hati kalian berdua.” (HR Bukhari no. 3281 dan Muslim no. 2175).
Di dalam hadits ini dijelaskan betapa cepatnya setan membuat manusia su’uzzhonn (berburuk sangka) dengan bisikan-bisikan kejahatan yang ia bisikkan. Maka dari itu kita sebagai hamba ALlah subhanahu wa ta’ala harus terus memohon perlindungan Allah ta’ala, jangan sampai kita merasa kuat dan merasa akan terbebas dari godaan bisikan-bisikan setan.
4- Setan jin & manusia yang mengganggu jin & manusia
Pada Ayat terakhir Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa setan bisa saja dari golongan jin dan bisa pula dari golongan manusia. Hal ini dijelaskan pula oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah tatkala menjelaskan ayat ini dengan mengaitkannya dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (QS Al-An’aam : 112).
Dan telah dijelaskan pula dalam kitab-kitab tafsir lain bahwa yang dimaksud pada ayat terakhir ini ialah pembisik/penggoda manusia bisa dari setan jin dan setan manusia. Ada pula pendapat lain menjelaskan bahwa maksud ayat terakhir ini ialah yang dibisiki bisa dari golongan jin dan manusia. Dan pada kenyataannya baik jin dan manusia sama-sama bisa tergoda dan sama-sama bisa menggoda pula. Namun pendapat yang paling masyhur kita temui ialah pendapat pertama. Wallahu A’lam
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi wa barakatuh
~Dilan Laksaputra
Komentar
Posting Komentar