Mentadabburi Surat Al-Ma'un

 Mentadabburi Surat Al-Ma'un

Assalamu'alaikum Warahmatullahi wa barakatuh,

Alhamdulillah, ALlahumma shalli 'ala Nabiyyina Muhammad

Berikut pembahasan terkait surat Al-Ma'un, semoga dapat meningkatkan keimanan qt.

Tadabbur Surat Al-Ma’un

بِسْمِ الله الرَّحمنِ الرّحيمِ

أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ (1)

فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ (2)  وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ (3)

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ (4) ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5)

ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ ٱلْمَاعُونَ (7)

1.      Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

2.      Itulah orang yang menghardik anak yatim

3.      Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin

4.      Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat

5.      (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya

6.      Orang-orang yang berbuat riya,

7.      Dan enggan (menolong dengan) barang berguna

***

 

1-Orang yang mendustakan agama

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman seraya mencela orang yang tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban terhadapNya dan hamba-hambaNya, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama”, (Al-Ma’un : 1) yakni mendustakan hari kebangkitan serta hari dibalasnya perbuatan di dunia dan juga tidak beriman dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah ta’ala memberikan ciri-ciri terhadap orang-orang yang demikian itu, “Itulah orang yang menghardik anak yatim”, (Al-Ma’un : 2) di antara tanda-tanda mendustakan hari pembalasan adalah tidak peduli dan malah menyakiti anak yatim. Allah subhanahu wa ta’ala telah membuat ia membenci anak yatim dengan mencabut rahmat dalam dirinya sehingga ia tidak menyayanginya dan justru malah menghardiknya.

Sifat yang demikian itu ialah sifat-sifat yang dihapuskan islam dari sifat orang-orang pada masa Jahiliah, karena sifat-sifat Jahiliyah salah satunya ialah meremehkan orang-orang yang lemah seperti anak yatim dan para wanita.

“Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin”, ( Al-Ma’un : 3) ciri berikutnya ialah tidak menganjurkan orang lain untuk memberi makan orang yang membutuhkan, yang tidak memiliki apa-apa ayng bisa mencukupi dan menutupi kebutuhannya. Maka bagaimana ia akan memberi makan orang miskin sedangkan ia tidak menganjurkannya. Na’udzubillah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan bahwa sifat kikir/pelit tidak akan bercampur dengan keimanan, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَلَا يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإيْمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا

“Tidak akan berkumpul sifat kikir dan keimanan dalam hati seorang hamba selama-lamanya.” (HR An-Nasa’i no. 3110). Ayat dan hadits ini hendaknya kita jadikan introspeksi bagi diri kita, bukan untuk mencerca orang lain. Apabila kita merasa masih memiliki sifat kikir hendaknya kita berusaha memperbaiki keimanan kita.

2- Shalatnya orang munafik

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang saahuun (lalai dari shalatnya).” (Al-Ma’un : 4 & 5) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan bagaimana ciri-ciri shalatnya orang munafik,

تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ, يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فِيْهَا إِلَّا قَلِيْلًا

“Itu adalah shalatnya orang munafik, ia duduk hingga matahari berada di antara dua tanduk setan. Lalu ia mengerjakan shalat Ashar empat rakaat. (dan) ia hanya mengingat Allah salam waktu yang sedikit (dalam shalatnya)”. (HR Muslim no. 622)

Dalam hadits dan ayat ini memang menjelaskan tentang shalatnya orang-orang munafik, akan tetapi hadits dan ayat ini juga menjadi peringatan keras bagi kita sebagai kaum muslimin. Jangan sampai kita shalat akan tetapi kualitas shalat kita seperti mereka, menunggu-nunggu hingga akhir waktu, dan di dalam shalat tidak mengingat Allah subhanahu wa ta’ala. Perlu kita terus introspeksi diri kita dengan memperbaiki shalat kita, waktu pelaksanaannya, serta kekhusyu’annya.

3-Orang-orang yang ingin dilihat dan dipuji orang lain

Ciri berikutnya disebutkan dalam lanjutan ayatnya, “orang-orang yang berbuat riya’.” (Al-Ma’un : 6) Orang yang riya dalam ayat ke enam ini tidak terbatas pada ibadah shalat saja, melainkan orang yang menampakkan perbuatan baik mereka karena mereka ingin mendapatkan pujian dari orang lain.

Sedangkan orang yang riya’ dalam shalatnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS An-Nisaa : 142)

4- Tempat Khusus di neraka untuk orang Riya’

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menulis dalam tafsirnya terkait hadits ancaman bagi orang yang riya “Sesungguhnya di dalam neraka jahannam benar-benar terdapat sebuah lembah yang neraka jahannam sendiri meminta perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari (keganasan) lembah itu setiap harinya sebanyak empat ratus kali. Lembah itu disediakan bagi orang-orang yang riya’ (pamer) dari kalangan umat Muhammad yang hafal kitabullah dan suka bersedekah, tetapi bukan karena Allah subhanahu wa ta’ala, dan juga bagi orang yang berhaji ke baitullah dan orang yang keluar untuk berjihad (tetapi bukan karena Allah subhanahu wa ta’ala).

5- Orang yang tidak mau menolong dengan barang berguna

“Dan enggan (menolong dengan) barang berguna”, (Al-Ma’un : 7) yaitu enggan memberikan sesuatu yang sepele dan tidak memudharatkan untuk diberikan dengan cara dipinjamkan atau dihibahkan seperti bejana, sendok, penghapus, pulpen dan lain sebagainya yang biasanya direlakan. Mereka itu terlalu kikir sehingga tidak mau memberikan barang-barang sepele, dan tentunya terhadap barang yang lebih berharga lagi ia tidak mungkin akan memberikannya.

Padahal dengan menolong saudara muslim kita, kita akan selalu dalam pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَاكَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ

“Dan Allah akan menolong hambanya apabila ia senantiasa menolong saudara muslimnya”. (HR. Muslim no. 2699)

6-kesimpulan surat

Intinya dalam surat ini terdapat peringatan bagi kita agar tidak melakukan hal-hal yang disebutkan, seperti menghardik anak yatim, menghalangi orang untuk bersedekah dan memberi makan orang lain, bermalas-malasan serta lalai dari shalat, beramal baik agar dilihat orang serta tidak mau menolong dengan barang-barang yang biasanya orang relakan untuk dipinjamkan. Wallahu A'lam

*** 

Semoga pembahasan surat Al-Ma'un ini mampu menjadikan kita hamba yang terus berusaha memperbaiki diri.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh

 

 

~Dilan Laksaputra

Komentar

Postingan populer dari blog ini

50 Kosa Kata Bahasa Arab benda-benda di sekitar kita

Teks Fi'il Madhi X

Do'a penutup IMTAQ dan artinya