Mentadabburi Surat Al-Falaq

 Mentadabburi Surat Al-Falaq

Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh, Alhamdulillahirabbil'aalamiin, Allahumma shalli 'ala Nabiyyina Muhammad, Amma Ba'du

Berikut pembahasan surat Al-Falaq, semoga dapat menambah wawasan serta keimanan kita.

Tadabbur Surat Al-Falaq

بسم الله الرحمن الرحيم

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِن شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ(4) وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ(5)

1.      Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,

2.      Dari kejahatan makhluk-Nya,

3.      Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita

4.      Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,

5.      Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki

***

1-Surat Mu’awwidzatain

Surat Al-Falaq ialah surat yang diturunkan setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke madinah (surat madaniyah). Surat Al-Falaq dan surat setelahnya, surat An-Nas merupakan surat Mu’awwidzatain yaitu dua pelindung. Hal ini dikarenakan kedua surat ini diawali dengan perintah Allah subhanahu wa ta’ala untuk mengatakan A’uudzu (aku berlindung), disamping itu juga asbabun nuzul (sebab turun) surat ini ialah karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terkena sihir. Bahkan di dalam sebuah hadits surat Al-Falaq beserta surat Al-Ikhlas dan surat An-Nas merupakan surat yang dianjurkan untuk dibaca sebanyak tiga kali pagi dan sore hari. Dan keutamaan bagi pembacanya ialah akan dicukupkan segala sesuatu untuknya, (HR. Abu Daud no. 5082, Tirmidzi no. 3575) dan dijelaskan pula oleh para ulama bahwa hal tersebut mencakup pencukupan dalam perlindungan. Wallahu A’lam.

2-Penjara Al-Falaq

Ayat pertama surat ini menyebutkan bahwa kita sebagai hamba Allah subhanahu wa ta’ala harus memohon perlindungan pada robbil falaq Tuhan Yang Menguasai Al-Falaq. Kata Al-Falaq ditafsirkan dengan banyak penafsiran, sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafizh Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya, Ka’bul Abar Rahimahullahu ta’ala mengatakan bahwa Al-Falaq adalah nama sebuah penjara di dalam neraka jahannam, yang apabila pintunya di buka maka para penghuninya akan menjerit karena panasnya yang sangat panas. Ibnu Abi hatim rahimahullah juga meriwayatkan bahwa Al-Falaq ialah nama sebuah sumur di neraka jahannam yang mempunyai tutup. Apabila tutupnya dibuka, maka keluarlah darinya api yang menggemparkan neraka jahannam karena panasnya yang sangat berlebihan. Sedangkan Abu Abdurrahman Al-Habli rahimahullahu ta’ala mengatakan bahwa Al-Falaq adalah nama lain dari neraka jahannam.

3-Waktu Subuh

Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala setelah menyebutkan berbagai pendapat tersebut menyebutkan bahwa yang paling benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa Al-Falaq adalah waktu subuh, hal ini berkaitan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala

فَالِقُ الْإِصْبَاحِ

“Allah yang menyingsingkan pagi.” (QS Al An’am : 96). Pendapat yang mengatakan bahwa Al-Falaq ialah subuh juga merupakan pendapat yang shahih dan dipilih oleh Imam Bukhari rahimahullah dalam kitab shahihnya.

4-Memohon perlindungan dari keburukan makhluk

            Ayat kedua dalam surat ini mulai menyebutkan terhadap apa saja kita sebagai hambanya Allah subhanahu wa ta’ala harus meminta perlindungan. “dari kejahatan makhluk-Nya.” (QS Al-Falaq : 2) yakni dari kejahatan atau keburukan semua makhluk Allah subhanahu wa ta’ala, bahkan hal-hal terdekat kita bisa saja memberi keburukan, karena sebagaimana yang kita ketahui bahwa semua hal yang ada di dekat kita ialah makhluk Allah. Bahkan keluarga, istri, anak-anak, orang tua terkadang juga mendatangkan keburukan di samping mendatangkan kebahagiaan.

            Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri juga menyebutkan bahwa neraka jahannam, iblis dan keturunannya ialah termasuk makhluk yang diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya ketika kita memohon perlindungan kepada Allah ta’ala dari kejahatan atau keburukan makhluk-makhluknya, maka bukan hanya kejahatan makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang tampak saja, namun termasuk yang ghaib juga, intinya adalah semua kejahatan atau keburukan makhluk Allah ta’ala kita mohon agar diberi perlindungan terhadapnya.

5-Kejahatan malam (Syarri Goosiq)

            Ayat ketiga dalam surat Al-Falaq menyebutkan hal kedua yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan kepada kita untuk berlindung darinya, yaitu dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan hal kedua ini ialah hal yang lebih khusus disebutkan setelah hal pertama yang lebih umum (kejahatan makhluk Allah secara umum).

Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa banyak orang melakukan kejahatannya di malam hari. Segala jenis kejahatan dan kemaksiatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala banyak dilakukan di malam hari. Oleh karenanya, kita diperintahkan untuk berlindung dari kejelekan malam apabila telah gelap gulita. Hal ini juga berkaitan dengan kejahatan apapun yang ada di malam hari ketika kegelapan menutupi manusia dan ketika ruh-ruh jahat tersebar serta binatang-binatang yang menyakitkan bertebaran (Tafsir As Sa’di hal 937).

6-Kejahatan tukang sihir

Ayat lanjutannya yaitu ayat keempat menyebutkan “dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang mengembus pada buhul.” Kata An Naffatsaat artinya ialah orang yang meniup-niup, dank arena lafazh ini ialah lafazh muannats (feminin) maka datanglah pemaknaan wanita yang meniup-niup. Adapun makna tukang sihir di dapat dari tata cara seorang melakukan aktifitas sihir tersebut, yaitu dengan membuat buhul berupa ikatan/simpul (‘uqod) dan kemudian si penyihir meniupkan mantra-mantranya pada buhul tersebut.

Sebagian ulama melarang ruqyah dengan cara meniup karena memaknai surat Al-Falaq ayat ke empat ini, yaitu ayat yang memerintahkan kita untuk memohon perlindungan dari orang yang meniup-niup. Namun dalam Tafsirnya Imam AL Qurthubi rahimahullah membantah hal tersebut dan menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meruqyah dengan meniup. (Tafsir al-Qurthubi 20/258). Pendapat yang lain menyebutkan bahwa penyihir dalam ayat ini yang dimaksud bukan hanya perempuan, namun laki-laki juga termasuk. Hal ini dikarenakan kata Annaffatsaat maksudnya adalah Annufuus (jiwa-jiwa yang jahat) sehingga mencakup laki dan wanita (Tafsir al- Baidhowi 5/348).

 

 

7-Kejahatan orang Hasad/Dengki

Ayat terakhir dalam surat ini menutup hal-hal yang kita diperintahkan untuk berlindung padanya. “dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”, dari pemaparan di atas secara keseluruhan Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk berlindung terhadap empat hal, 1. Kejahatan Makhluk-Nya, 2. Kejahatan malam apabila telah gelap gulita, 3. Kejahatan penyihir yang meniup pada buhul, dan yang terakhir 4. Kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.

Apabila kita melihat lebih spesifik lagi, sebenarnya Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk berlindung dari kejahatan semua makhluknya, antara lain; kejatahan malam, kejahatan penyihir, dan kejahatan orang yang dengki.

Dengki disebutkan secara khusus pada ayat terakhir ini, karena seringkali dengki/hasad menyebabkan seorang ingin agar nikmat yang berada pada orang lain hilang. Namun merujuk pada hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan ada dengki/hasad yang diperbolehkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٍ آتَاهُ اللهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلّى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٍ آتَاهُ اللهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak diperbolehkan iri (dengki) kecuali kepada dua hal. (yaitu kepada) seorang yang Allah berikan kepadanya harta lalu ia mempergunakannya serta membelanjakannya pada kebaikan dan seorang yang Allah berikan ilmu (hikmah) lalu dia melaksanakan/mengamalkannya dan mengajarkannya.” (HR. Bukhori no 1320).

            Hadits ini ialah hadits kebolehan seorang iri namun dalam kebaikan, sehingga orang yang iri tersebut terpacu untuk berlomba-lomba dalam kebaikan sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala fastabiqulkhairaat “berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan” (QS Al Baraqah : 148). Dan perlu di garis bawahi bahwa iri di sini ialah iri yang membuat pelakunya terpicu untuk melakukan kebaikan yang sama, dan bukan menghilangkan nikmat atau mengganggu serta memberi keburukan pada orang lain.

 Maka dapat disimpulkan bahwa ada dengki yang menimbulkan kejahatan dan ada pula dengki yang tidak menimbulkan kejahatan, namun seringkali dengki menimbulkan kejahatan. Oleh karena itu Allah subhanahu wa ta’ala secara khusus memerintahkan kita pada akhir surat ini untuk memohon perlindungan terhadap kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.

Dengki bukan hanya berbahaya bagi orang yang didengkikan saja, dengki pula merupakan hal yang sangat berbahaya bagi pelakunya serta bagi orang-orang sekitarnya. Banyak orang melakukan hal-hal yang tidak diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta’ala karena dengki, dan sering kali pelampiasan orang dengki bukan hanya pada orang yang ia dengki terhadapnya saja, bisa jadi ia merusak barang, berkata-kata kasar, dan menyakiti orang lain sebagai pelampiasan.

Dengki juga merupakan hal yang dapat membuat pelakunya melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dapat kita lihat bagaimana dengki menjadikan Iblis la’natullah bersikukuh untuk menggoda manusia, saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihissalam melakukan kejahatan terhadap Nabi Yusuf ‘alaihissalam, Qabil membunuh saudaranya Habil karena kedengkiannya, dan ada banyak lagi contoh dari buruknya kejahatan seorang yang dengki apabila ia dengki. 

Penyebar penyakit ‘ain juga termasuk orang yang dengki, karena penyakit ‘ain tentunya muncul dari seorang pendengki, bertabiat buruk, dan berjiwa keji. (Tafsir As Sa’di hal 937). Dan tentunya kita sebagai hamba Allah subhanahu wa ta’ala juga harus terus memohon perlindungan kepada Allah ta’ala agar kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang pendengki. Karena di dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menyebut “kejahatan pendengki, apabila ia dengki”, bukan menyebutkan kejahatan manusia apabila ia dengki. Berarti pada dasarnya ada orang yang tergolong ke dalam golongan yang cendering merasa dengki. Oleh karenanya selain memohon perlindungan dari orang yang dengki apabila ia dengki, kita juga semestinya memohon kepada Allah ta’ala agar kita tidak tergolong orang-orang yang memiliki kecenderungan dengki terhadap orang lain.  Wallahu A’lam.

***

Semoga pembahasan terkait surat Al-Falaq ini dapat memberi wawasan kepada kita, dapat menambah keimanan kita, dapat menambah kecintaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan semoga kita selalu terlindungi dari segala mara bahaya yang berdampak terhadap kehidupan dunia maupun akhirat kita. Aamiin yaa rabbal ‘Aalamiin,

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh

 

 

~Dilan Laksaputra

Komentar

Postingan populer dari blog ini

50 Kosa Kata Bahasa Arab benda-benda di sekitar kita

Teks Fi'il Madhi X

Do'a penutup IMTAQ dan artinya