Mentadabburi Surat Adh-Dhuha
Mentadabburi Surat Adh-Dhuha
Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh,
Alhamdulillah, Allahumma shalli 'ala Saiyidina Muhammad
Berikut Kandungan makna surat Adh-Dhuha, semoga dengan ini kita menjadi Hamba yang lebih dekat dengan Allah subhanahu wa ta'ala
Tadabbur Surat Adh-Dhuha
بِسْمِ الله الرَّحمنِ الرّحيمِ
وَالضُّحٰى (1) وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰى (2) مَا وَدَّعَكَ
رَبُّكَ وَمَا قَلٰى (3)
وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰى (4) وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰى (5)
اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰى (6) وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰى (7)
وَوَجَدَكَ عَاۤىِٕلًا فَاَغْنٰى (8) فَاَمَّا الْيَتِيْمَ فَلَا تَقْهَرْ (9)
وَاَمَّا السَّاۤىِٕلَ فَلَا تَنْهَرْ (10) وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (11)
1. Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalah),
2. Demi malam apabila telah sunyi,
3. Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu,
4. Sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan.
5. Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.
6. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu),
7. Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk,
8. Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan
9. Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.
10. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya).
11. Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).
***
1-Surat Adh-Dhuha sebagai penghibur
Surat Adh-Dhuha ialah surat yang turun kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghibur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam karena wahyu tidak kunjung datang sehingga istri Abu Lahab memperolok Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dalam sebuah hadits :
اِحْتَبَسَ جِبْرِيْلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ، فَقَالَتْ اِمْرَأَةٌ مِنْ قُرَيْشٍ: أَبْطَأَ عَلَيْهِ شَيْطَانُهُ. فَنَـزَلَتْ: وَالضُّحَى. وَاللَّـيْلِ إِذاَ سَجَى. مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى
Jibril tertahan (tidak kunjung datang) kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata seorang wanita dari Quraisy (Ummu Jamil binti harb) : “Setannya terlambat datang kepadanya,” maka turunlah Waddhuhaa, Wallaili idzaa sajaa, Maa wadda’aka Rabbuka wa Maa Qolaa “Demi waktu matahari sepenggalahan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi. Rabb-mu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu”. (HR Bukhari no. 1073, no. 4667, no. 4698)
2- Demi waktu dhuha dan waktu malam
Allah subhanahu wa ta’ala bersumpah pada ayat pertama dengan waktu duha. Waktu yang disunnahkan melaksanakan shalat padanya. Dan ketika itu orang-orang sedang sibuk beraktivitas, terlebih lagi waktu paling afdhal untuk shalat dhuha iyalah saat matahari berada pada puncak panasnya (sekitar jam 10) dan ini adalah puncak kesibukan orang-orang.
Setelah Allah ta’ala memulai dengan sumpah waktu dhuha, Allah ta’ala melanjutkan firmannya dengan sumpah malam hari, “dan demi malam apabila telah sunyi”. Pada ayat pertama Allah ta’ala bersumpah dengan waktu pagi yang lebih spesifik, kemudian melanjutkannya dengan malam yang spesifik juga (apabila telah sunyi).
Malam yang sunyi menjadi waktu yang bagus untuk beristirahat. Akan tetapi ada sebagian hamba Allah ta’ala yang pada malam sunyi tersebut ia beribadah kepada Allah ta’ala sebagaimana ibadah yang dilakukan di waktu dhuha. Di puncak aktifitas ada orang-orang menyisipkan waktunya untuk beribadah kepadanya.
Bahkan Imam Al Qurthubi menafsirkan ayat kedua ini dengan :
وَعِبَادُ الَّذِيْنَ يَعْبُدُونَهُ بِاللَّيْلِ إِذَا أَظْلَمَ
“Demi hamba-hambaNya yang beribadah kepadaNya di malam hari ketika gelap gulita”.
3-Allah tidak meninggalkan dan tidak pula membenci
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman setelahnya, “Tuhan-mu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu”. (Adh-Dhuha : 3) Surat ini turun untuk menghibur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah ta’ala menyatakan bahwa Allah ta’ala tidak akan meninggalkan Beliau dan tidak pula membencinya.
Pada bagian kedua (tiada pula benci kepadamu), Allah ta’ala menggunakan kata Wa Maa Qolaa, pada lafazh ini Allah ta’ala tidak menggunakan kata ganti (Ka) sebagaimana pada pernyataan pertama (Wadda’aka). Hal ini dikarenakan Allah subhanahu wa ta’ala tidak ingin membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa berat dengan lafazh tersebut.
4- Kehidupan Akhir lebih baik dari permulaan
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menghibur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan firmannya, Walal Aakhiratu Khairullaka MinalUulaa “dan sesungguuhnya akhir (kehidupan akhirat) lebih baik bagimu daripada permulaan (kehidupan dunia).
Sebagian besar ulama tafsir menafsirkan kata akhir dengan negeri akhirat atau kehidupan akhirat dan menafsirkan kata permulaan dengan negeri dunia atau kehidupan di dunia ini. Akan tetapi ada juga yang memaknai maksud kata akhir dan permulaan ini ialah sebagaimana lafazhnya.
Kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan semakin baik dari awal kehidupannya. Derajar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan semakin tinggi di sisi Allah subhanahu wa ta’ala sehingga kondisi ketika Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menginggal dunia ialah kondisi terbaiknya. Wallahu A’lam
Ayat kelima pada surat ini menjelaskan bahwa nanti di akhirat Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan karunia kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga hati Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan puas.
Selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala menghibur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengingatkan Beliau atas nikmat-nikmat yang sebelumnya diberikan, “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu”, (Adh-Dhuha : 6) “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk” (Adh-Dhuha : 7), “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan”. (Adh-Dhuha : 8)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah ditinggalkan sejak dalam kandungan oleh Ayahnya, namun Allah subhanahu wa ta’ala memeliharanya. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu tidak mengetahui apa-apa terkait kitab, iman, islam dan lain sebagainya, namun Allah subhanahu wa ta’ala memberikan petunjukNya. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah orang yang miskin, dan diasuh pula oleh orang miskin, namun setelahnya Allah ta’ala memberikan karunianya berupa harta yang mencukupi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga Allah subhanahu wa ta’ala anugrahkan kepadanya kesederhanaan dan kesabaran.
5-larangan semena-mena terhadap yatim & larangan menghardik peminta-minta
“adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang” (Adh-Dhuha : 9) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyayangi anak yatim, serta telah mengajarkan kepada para sahabatnya untuk menyayangi anak yatim dan jangan semena-mena dengan mereka.
“dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya”, dijelaskan bahwa perbuatan minta-minta harta ialah perbuatan yang tercela dalam islam, namun dengan jelas adanya larangan untuk menghardik orang yang meminta-minta. Artinya ialah jikalau seorang menemui orang yang meminta-minta hendaklah ia tunaikan hajatnya, ataupun kalau ingin menolaknya maka tolak dengan baik.
Sebagian ulama menjelaskan terkait meminta-minta di sini tidak hanya meminta harta, namun termasuk juga meminta ilmu. Dalam tafsir As Sa’di bahkan dijelaskan bahwa seorang guru diperintahkan untuk berakhlak baik terhadap murid dengan memuliakan dan menyayangi muridnya, karena hal itu bisa jadi sangat bermanfaat bagi guru dan murid, serta yang demikian itu merupakan bentuk menyenangkan hati orang lain.
6-Jangan lupa terhadap masa lalu
Ayat ke 9 dan 10 dapat memberikan kita pelajaran penting bahwa kita tidak boleh melupakan apa yang telah terlewat dalam diri kita, sebagaimana dinyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dulunya ialah seorang yatim, Allah subhanahu wa ta’ala lalu menjelaskan bahwa jangan sampai seorang semena-mena terhadap anak yatim. Kemudian dinyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu belum mengetahui ilmu yang luas terkait iman dan islam, dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ialah orang yang kekurangan. Maka Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa orang yang meminta-minta baik ilmu maupun harta jangan sampai kita menghardiknya.
Memang benar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama hidup beliau tidak pernah sama sekali meminta-minta, Beliau selalu menjaga kehormatan dan kesucian dirinya dengan tidak meminta-minta dan memberatkan orang lain, karena sesungguhnya seringkali orang yang meminta-minta memberatkan orang lain. Akan tetapi maksud penjelasan ini ialah kondisi orang yang meminta-minta tentunya didasari kekurangan harta.
7-Tahadduts Binni’mah
Penutup ayat ini memerintahkan kita agar selalu tahaddits binni’mah, “dan terhadap nikmat Tuhan-mu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”, (Adh-Dhuha : 11)
Walaupun Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk menyebut-nyebut nikmatnya. Bukan berarti kita harus terus menyebarkannya ke semua orang dan semua media sosial yang ada. hendaknya kita memilih terhadap siapa kita akan menceritakan nikmat Allah subhanahu wa ta’ala kepada kita.
Kekhawatiran terhadap kebencian dan kedengkian orang lain perlu kita tanamkan pada diri kita. Bahkan orang yang kita anggap dekat dengan kita pun belum tentu akan suka terhadap apa yang kita ceritakan. Maka dalam hal ini kita harus selalu berhati-hati. Wallahu A’la,
***
Semoga tadabbur surat Adh-Dhuha ini bisa jadi asbab ditingkatkannya iman kita, karena sesungguhnya surat ini ialah penghibur bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan banyak pula orang-orang yang sedang merasa jauh dari Allah ‘azza wa jalla terhibur dan bersemangat kembali setelah mendengar dan membaca surat ini. Bahkan ada orang yang mempelajari Al-Qur’an dan Alhamdulillah mendapat hidayah ketika membaca surat ini.
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala selalu memberikan kita hidayahnya serta taufuknya. Aamiin yaa rabbal ‘Aalamiin
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Komentar
Posting Komentar