Memahami serta mempelajari Surah Al-Ikhlas

Tadabbur Surat Al-Ikhlash

Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Alhamdulillah, Allahumma shalli 'ala saiyidina Muhammad wa 'ala aalihi wa ashabihi ajma'in

amma ba'du

Para pembaca yang InSYaAllah dirahmati Allah, penting untuk kita mentadabburi surat-surat dalam Al-Qur'an khusunya yang sering kita baca dalam shalat, agar shalat kita lebih khusyu' sehingga shalat kita lebih berarti dan bermakna di sisi Allah subhanahu wa ta'ala.

oleh karenanya pada tulisan ini saya ingin mengajak sahabat pembaca sekalian untuk merenungi serta mentadabburi surat Al-Ikhlas, karena surat Al-Ikhlas ini merupakan salah satu surat yang paling sering kita baca dalam shalat

Tadabbur Surat Al-Ikhlas

بِسْمِ الله الرَّحمنِ الرّحيمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ (1) اللهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)

1.    1. Katakanlah “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa”

2.      2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

3.      3. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan

4.      4. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”

Surat Al-Ikhlas adlah surat Makiyyah (surat yang diturunkan di makkah), surat ini diturunkan sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke madinah. Banyak sekali riwayat yang menyebutkan bahwa surat ini ialah surat yang sangat sering dibaca oleh baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Telah dijelaskan pula di dalam sebuah hadits :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ أَنَّ رَجُلًا سَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

Dari Abi Sa’id al-Khudri, bahwasanya ada orang mendengar seseorang membaca “qul huwallahu Ahad”, dan diulang-ulang. Pada keesokan harinya, ia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melaporkannya, seakan ia menganggap remeh. Maka Rasulullah bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, ia sebanding dengan sepertiga Al-Qur`an”. (HR Bukhari, no. 5013).

Riwayat lain pula menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutus salah seorang sahabat dalam satu pasukan khusus. Sahabat tersebut menjadi imam shalat bagi sahabat yang lain, lantas ia selalu mengakhiri bacaan dengan membaca surat Al-Ikhlas. Ketika mereka pulang, hal tersebut diadukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Beliau memerintahkan para sahabat untuk menanyakan kepadanya terkait tujuan ia melakukan hal tersebut. maka mereka pun menanyakan hal tersebut. Ia lantas menjawab

لِأنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَن فَأنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا

“Karena di dalamnya terdapat sifat Ar Rahman, dan aku senang apabila aku selalu membacanya” mendengar hal tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللهَ يُحِبُّهُ

“beritahukanlah ia bahwa Allah ta’ala juga mencintainya.” (HR Bukhari no. 7375 dan Muslim no. 813)

Dan dalam hadits yang lain dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata “Seseorang Anshar mengimami para shahabat lainnya di Masjid Quba. Setiap ia memulai membuka bacaan dalam shalatnya, ia membaca sebuah surat dari surat-surat yang selalu Ia baca. Ia membuka bacaan surat di dalam shalatnya dengan qulhuallahu ahad (surah Al Ikhlas) sampai selesai, kemudian ia lanjutkan dengan membaca surat lainnya. Ia pun melakukan hal demikan itu di setiap raka’at. (Akhirnya) para sahabat lainnya berbicara kepadanya, mereka berkata: “Sesungguhnya engkau membuka bacaanmu dengan surat ini (Al Ikhlas), kemudian engkau tidak menganggap hal itu telah cukup bagimu sampai membaca surat lainnya. Maka, (jika engkau ingin membacanya) bacalah surat itu saja, atau engkau tidak membacanya dan engkau membaca surat lainnya”. Ia berkata: “Aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian suka untuk aku mengimami kalian dengannya, maka aku lakukan. Namun, jika kalian tidak suka, aku tidak akan mengimami kalian,” dan mereka telah menganggapnya orang yang paling utama di antara mereka, sehingga mereka pun tidak suka jika yang mengimami mereka (dalam shalat) adalah orang selain dia. Sehingga tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka, maka mereka pun menceritakan kabar tersebut, lalu Ia shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Wahai fulan, apa yang menghalangimu untuk melakukan sesuatu yang telah diperintahkan para sahabatmu? Dan apa pula yang membuatmu selalu membaca surat ini di setiap raka’at?” Dia menjawab,”Sesungguhnya aku mencintai surat ini,” lalu Rasulullah bersabda: “Cintamu kepadanya memasukkanmu ke dalam surga.” (HR Bukhari no. 741)

Surat Al-Ikhlas ini ialah surat yang sering dianjurkan untuk kita membacanya, dalam hadits yang lain disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjarkan kita untuk membaca surat Al Ikhlas tiga kali setiap pagi dan sore (HR. Abu Daud no. 5082, Tirmidzi no. 3575. Al Hafidz Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda :

مَن قَرَأَ قل هو الله أحد عَشَرَ مَرَّاتٍ بَنَى اللهُ لَهُ قَصْرًا فِي الجَنَّة

“barang siapa membaca qul huwallahu ahad (surah Al Ikhlas) maka Allah akan membangunkan istana baginya di surga.” (HR. Ahmad 3/437)

            Ayat pertama surat Al Ikhlas menunjukkan bahwa kita sebagai makhluk Allah subhanahu wa ta’ala harus menyatakan bahwa Allah adalah Tuhan yang maha Esa, dan begitu pula ayat-ayat selanjutnya menjelaskan bagaimana syarat menjadi Tuhan.

            Ayat kedua dalam surat Al Ikhlas menyatakan bahwa Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Para ulama menjelaskan makna dari kata Asshomad dengan berbagai penjelasan salah satunya ialah :

اَلْمُسْتَغْنِي عَنْ كُلِّ أَحَدٍ, وَالْمُحْتَاجُ إِلَيْهِ كُلُّ أَحَدٍ

“yang tidak membutuhkan segala sesuatu dan yang segala sesuatu membutuhkannya”. Ini adalah penjelasan yang dipaparkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu (Tafsir al-Qurthubi 20/245).  Dan masih banyak lagi penafsiran lain yang inti dari semuanya ialah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak membutuhkan makhluk-makhluknya, tidak membutuhkan segala sesuatu dan justru sebaliknya. Segala sesuatu membutuhkan Allah subhanahu wa ta’ala dan segala sesuatu bergantung pula pada Allah ta’ala.

Apabila seorang benar-benar memahami makna ayat ini secara mendalam maka besar kemungkinan ia akan meyakini bahwa segala sesuatu ialah kehendak Allah ta’ala. Seperti misalkan seorang yang sakit kemudian ia meminum obat, ia benar-benar memahami bahwa obat hanyalah perantara dan ia tidak boleh menggantungkan keyakinan pada obat, ia harus benar-benar menggantungkan keyakinannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Wallahu a’lam

            Ayat ketiga dalam surat ini merupakan bantahan terhadap orang-orang yang menyebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memiliki anak. Dalam tafsir at-Taysir menjelaskan bahwa ayat ini sebagai bantahan terhadap umat Nasrani bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam adalah putra Allah ta’ala dan merupakan bantahan terhadap kaum Yahudi yang menganggap bahwa ‘Uzair adalah putra Allah ta’ala, serta merupakan bantahan bagi kaum musyrikin yang menganggap bahwa para malaikat adalah putri-putri Allah subhanahu wa ta’ala.

            Allah subhanahu wa ta’ala tidak pula dilahirkan. Apabila Allah ta’ala dilahirkan maka pastilah akan menuju kepada kematian karena segala sesuatu yang dilahirkan pasti akan menuju kematian. (Tafsir as-Sam’aani 6/303). Subhanallah, maha suci Allah dari segala tuduhan-tuduhan itu.

            Ayat terakhir dalam surat Al Ikhlas menegaskan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala Ialah Tuhan yang tiada satu apapun di dunia ini yang setara dengan-Nya, dan bahkan pikiran dan khayalan kita pun tidak akan mampu menyetarai Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini menjelaskan bahwa apapun yang terbersit dalam pikiran kita maka itu tidak akan sebanding dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Jangankan sang pencipta surga dan neraka saja yang merupakan makhluk Allah ta’ala tidak mampu kita bayangkan, lalu bagaimana dengan Allah subhanahu wa’ala. Allah subhanahu wa ta’ala dalam firmannya menjelaskan :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Asy-Syura : 11).

             Secara keseluruhan surat Al Ikhlas merupakan surat yang menjelaskan sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala yang berfokus pada bara’ah minassyirk (berlepas dari kesyirikan) dan hal ini pula yang menjadi salah satu sebab surat ini dinamakan surat Al Ikhlas.

            Sebagai penutup, saya berterimakasih kepada para pembaca. dan juga memohon maaf sebesar-besarnya apabila ada salah kata, karena sesungguhnya saya hanyalah manusia biasa yang memiliki banyak kekhilafan dan kesalahan. Semoga apa yang saya tulis ini dapat menjadi amal baik di sisi Allah subhanahu wa ta'ala, dan bukan sebaliknya (wal'iyadzu billah). Semoga pembahasan terkait surat Al Ikhlas ini dapat memberi wawasan kepada kita, dapat menambah keimanan kita, dapat menambah kecintaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin, Wallahu A’lam

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 


Dilan Laksaputra, 23 Mei 2024

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

50 Kosa Kata Bahasa Arab benda-benda di sekitar kita

Teks Fi'il Madhi X

Do'a penutup IMTAQ dan artinya