Mentadabburi Surat Al-Fatihah
Mentadabburi Surat Al-Fatihah
Bismillah, Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Alhamdulillah, Allahumma shalli 'ala saiyidina Muhammad, Amma ba'du
surat Al-Fatihah ialah surat yang wajib kita baca di dalam shalat. Sebagai surat yang selalu kita baca dalam shalat, tentunya surat Al-Fatihah ialah surat yang penting untuk kita tadabburi agar shalat kita bisa semakin khusyu'.
Berikut penjelasan terkait makna surat Al-Fatihah :
بِسْمِ الله الرَّحمنِ الرّحيمِ (1)
الحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعلَمِيْنَ (2) الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ (3) ملِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (4)
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (6)
صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِم وَلَا الضَّالِيْن (7)
1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam
3. Maha pengasih lagi Maha Penyayang
4. Yang menguasai hari pembalasan
5. Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan
6. Tunjukilah kami jalan yang lurus
7. (Yaitu) jalan orang-orang yang Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
***
Menurut madzhab syafi’i dan juga Imam Hafs ‘an ‘Ashim Ayat pertama pada surat ini ialah Bismillahirrahmaanirrahiim, dan ada pula pendapat para ulama yang menyatakan bahwa ayat pertama pada surat ini ialah Alhamdulillahi rabbil’Aalamiin .
1-Alhamdulillah sebagai pujian dan rasa syukur
Alhamdulillah “segala puji bagi Allah” merupakan sebuah kalimat yang dimaksudkan untuk memuji Allah subhanahu wa ta’ala. Di samping itu pula, kalimat ini menunjukkan bahwa hanya Allah subhanahu wa ta’ala-lah yang berhak atas segala pujian yang dipanjatkan. (lihat tafsir Jalallain – surat Al Fatihah)
Kalimat Alhamdulillah juga merupakan bentuk ungkapan syukur yang diungkapkan oleh seorang hamba. Namun perlu kita pahami bahwa ketika seorang mendapat kebaikan dari orang lain, kita sebagai hamba harus tetap berterimakasih kepada orang tersebut. Karena sejatinya ucapan terimakasih kepada makhluk tidak akan mengurangi nilai pujian kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ
“seorang belum bersyukur kepada Allah apabila ia tidak berterimakasih pada manusia” (HR. Abu Daud no. 4811)
Berkaitan dengan rasa syukur, Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman yang artinya “dan (ingatlah juga), tatkala Tuhan-Mu memaklumkan, “sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.(QS Ibrahim : 7) Dalam ayat ini dijelaskan bahwa sebagai hamba kita harus benar-benar mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dan apabila seorang bersyukur terhadap nikmat yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala maka Allah akan tambah nikmat tersebut.
Salah satu cara bersyukur atas nikmat Allah ta’ala ialah dengan memuji Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu dengan lafazh Alhamdulillah. Oleh karenanya ketika seorang memulai shalat dan ia membaca lafazh Alhamulillah dengan benar-benar memuji Allah dan mensyukuri nikmat-nikmatnya, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menambah nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya.
Dengan memuji Allah ta’ala, seorang telah bersyukur kepada-Nya, dan dengan bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya Allah ta’ala akan menambah nikmat tersebut. Pantaslah dalam haditsnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّه, وَ أَفْضَلُ الدُّعَاءِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ
“Dzikir yang paling utama/afdhol ialah Laa Ilaaha IllAllah dan doa yang paling utama ialah Alhamdulillah” (HR Tirmidzi no. 3383, Ibnu Majah 3800)
2- Alhamdulillah ialah do’a
Lafazh Alhamdulillah disebut sebagai do’a yang paling utama pada hadits ini. Hal ini dikarenakan ketika merenungi nikmat Allah subhanahu wa ta’ala dan mensyukurinya dengan lafazh Alhamdulillah maka sesuai janji Allah subhanahu wa ta’ala pada surat Ibrahim ayat 7 yang telah disebutkan di atas, Allah ta’ala akan tambah nikmat tersebut.
Hamba yang memuji Allah ta’ala dan menyukuri nikmat-Nya dengan mengucap Alhamdulillah seakan-akan ia berdoa “ya Allah, beri tambah lah nikmat ini”. Maka yakinlah ketika kita mengucap Alhamdulillah akan ditambah nikmat kita. Bisa jadi nikmat yang ditambah berupa kuantitas/jumlah, dan bisa jadi berupa kualitas, dan bisa jadi pula ditambah dengan nikmat lain yang di sisi Allah ta’ala baik bagi kita, Wallahu A’lam.
3-Rabbil’Aalamin (Rabb semesta alam)
Lafazh Rabbil ‘Aalamiin ialah pernyataan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala ialah Rabb seluruh alam, Rabb seluruh ciptaannya, seperti manusia, jin, malaikat, binatang, langit, bumi, dan lain-lain. Semua inilah yang disebut ‘Alam, maka kata ‘Aalamiin ialah jama’ dari ‘Alam yang bermakna Allah subhanahu wa ta’ala ialah Rabb seluruh alam yang Allah ta’ala ciptakan.
4-Ar-Rahman & Ar-Rahim
Ayat ketiga menyebutkan Sifat Allah ta’ala yaitu Ar-Rahman maha pengasih. Para ulama menjelaskan bahwa Ar-Rahman meliputi seluruh makhluk Allah subhanahu wa ta’ala, sedangkan Ar-Rahim maha penyayang hanya diperuntukkan kepada makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang beriman saja.
5-Yang Menguasai hari pembalasan
Maaliki Yaumiddin artinya ialah “yang menguasai hari pembalasan” (QS Alfatihah : 4), Allah subhanahu wa ta’ala ialah penguasa, pemilik hari pembalasan/hari Qiamat yang bahkan nanti pada hari itu makhluk-makhluk Allah ta’ala tidak ada yang mampu berbicara kecuali atas idzinnya, dan bahkan atas idzin Allah ta’ala segala sesuatu dapat berbicara dalam rangka memberikan saksi atas apa yang telah diperbuat makhluk Allah subhanahu wa ta’ala selama di dunia.
Banyak orang yang bingung ketika memikirkan bagaimana Allah membuat tangan, penglihatan, pendengaran dan kulit-kulit akan bersaksi nanti pada hari pembalasan. kebingungan itu seharusnya tidak terlalu mengganggu ibadah kita sebagai hamba, intinya Allah subhanahu wa ta’ala maha kuasa atas segalanya.
Dapat kita saksikan bersama bagaimana perkembangan zaman yang kita lihat. Mulai dari zaman dahulu ketika orang-orang bekromunikasi dan mendokumentasikan sesuatu hanya dengan tulisan, kemudian bekembang dengan adanya foto, berkembang lagi dengan adanya video. Tentu kita ketahui bersama pada masa lalu tidak akan ada orang yang mampu memikirkan bagaimana besi mampu mengeluarkan suara, mampu menampilkan gambar, sehingga pada zaman sekarang ini atas idzin Allah ta’ala semua terjadi begitu saja. Ini hanyalah gambaran kecil yang Allah ta’ala berikan kepada kita bagaimana segala sesuatu nanti akan menjadi saksi pada hari pembalasan/hari kiamat atas apa yang terjadi di muka bumi ini. Hari itu akan menjadi hari ditampakkannya dengan jelas bagi seluruh makhluk kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala dengan sejelas-jelasnya.
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjaga aib-aib kita dunia akhirat, menghapuskan dosa-dosa kita dan memberikan kita taufik dan hidayanya selalu. Aamiin Yaa Rabbal’Aalamiin.
6-Hanya kepada Allah, IyyaaKa
Ayat kelima merupakan pernyataan bahwa hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala kita menyembah. Apabila kita benar-benar merenungi potongan kalimat ini, kita akan merasa malu kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ibadah kita yang sering kali tersambar rasa riya’ ingin dilihat orang, sum’ah, takabbur, dan segala jenis penyakit hati.
Kita sebagai hamba-Nya benar-benar menyatakan bahwa IyyaKa hanya kepada Engkau-lah na’budu kami menyembah. Saya pernah mendengar dari salah seorang sahabat yang bercerita, bahwa ia pernah menyaksikan orang shalat, saking khusyu’nya ia langsung menangis ketika mulai membaca ayat ini. SubhanAllah,
Kata IyyaaKa Na’budu kemudian dilanjutkan dengan kata IyyaaKa Nasta’iin “hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan” sama halnya dengan makna pengkhususan tadi, di sini kita sebagai hamba benar-benar menyatakan bahwa hanya Allah subhanahu wa ta’ala tempat memohon pertolongan untuk keselamatan dunia maupun akhirat. Dalam tafsir As-sa’di disebutkan bahwa ketika seorang mumbaca ayat ini seolah-olah ia mengucap “Kami menyembahMu, dan tidak menyembah selain diriMu, kami memohon pertolongan kepadaMu dan tidak meminta pertolongan selain dariMu”.
Penyebutan ibadah terlebih dahulu ialah merupakan kewajiban seorang hamba, agar mendahulukan hak-hak Allah ta’ala dari pada hambaNYa. Dan ibadah kepada Allah ta’ala serta memohon perlindungan kepada Allah ta’ala ialah dua hal yang menjadi inti dari keselamatan dunia dan akhirat.
7-Jalan yang benar
Ayat keenam dari surat Al Fatihah merupakan salah satu ayat yang sangat penting, karena pada ayat keenam inilah permohonan dipanjatkan, IhdinasshiraathalMustaqiim “Tunjukilah kami jalan yang lurus”, karena kita ketahui bersama, kebenaran adalah milik Allah ta’ala semata, makhluk-makhluknya terkadang tidak mengetahui apakah dia melakukan hal yang benar atau salah. Dan bahkan banyak orang yang menyangka ia telah melakukan perbuatan yang benar namun sebenarnya ia tidak berada pada jalan yang mustaqiim. Na’udzubillah
Do’a yang terkandung pada ayat ini bukan hanya bermaksud untuk meminta jalan yang lurus, akan tetapi permohonan kepada Allah ta’ala agar Allah subhanahu wa ta’ala menuntun, mengantar, serta membimbing kita sebagai hamba-Nya kejalan yang lurus yang menuju kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan surga-Nya.
Maka penting untuk kita menguatkan kekhusyuan kita, harap kita ketika kita membaca surat Al Fatihah. Terlebih lagi pada ayat kelima ini yang merupakan permohonan agar ditunjukkan ke jalan yang lurus.
Ayat terakhir pada surat ini merupakan penjelas dari kata shirat (jalan) yang disebutkan pada ayat sebelumnya, “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
8- Orang-orang yang diberi nikmat
Maksud dari orang-orang yang telah dianugerahi nikmat ialah orang-orang yang diberikan nikmat berupa ketaatan kepada Allah ta’ala dan nikmat ibadah kepada Allah ta’ala, karena nikmat ketaatan dan ibadah merupakan salah satu nikmat terbesar yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dan mereka ialah para malaikat, para nabi, para siddiqiin, para syuhada’ dan orang-orang shaleh. (Tafsir Ibnu Katsir surat Al Fatihah)
9- Yang dimurkai dan yang sesat
Ayat terakhir ini ditutup dengan menyebutkan dua golongan manusia yang tentunya tidak berada di jalan yang lurus, yaitu orang-orang yang maghdhuub “orang yang dimurkai” ialah orang yang mengetahui kebenaran namun tidak mau mengamalkannya, yaitu orang-orang Yahudi. Dan orang-orang yang tersesat, mereka adalah orang-orang yang tidak mengambil petunjuk karena kebodohannya (Syaikh ‘Aidh Al Qarni dalam tafsir Al Muyassar).
***
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menunjukkan kita jalan yang lurus. Semoga kita terlindungi dari sifat orang yahudi (mengetahui kebenaran namun tidak mengamalkannya) dan terlindungi dari sifat orang nasrani (tidak mau mengambil petunjuk karena kebodohan). Dan semoga kita menjadi hamba-Nya Allah subhanahu wa ta’ala yang selalu mempelajari ilmu-ilmu agama, mampu mengamalkannya serta khusyu dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Komentar
Posting Komentar