Mentadabburi Surat Al-Lahab
Tadabbur Surat Al-Lahab
Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh, Alhamdulillah, Allahumma shalli 'ala Nabiyyina Muhammad, Amma ba'du
Berikut pembahasan terkait surat Al-Lahab
Tadabbur Surat Al-Lahab
بِسْمِ الله الرَّحمنِ الرّحيمِ
تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّۗ (1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (2)
سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3)
وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِّن مَّسَدٍ (5)
1. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesunggunya dia akan binasa
2. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang dia usahakan
3. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak
4. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar
5. Yang di lehernya ada tali dari sabut
***
Surat Al-Masad atau yang lebih dikenal dengan surat Al-Lahab merupakan surat Makkiyah yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum hijrah ke madinah.
1-Abu Utaibah Abdul ‘Uzza bin Abdul Muttholib
Kata Al-Lahab merujuk pada nama paman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Abdul ‘Uzza bin Abdul Muttholib yang memiliki kunyah (gelar) Abu Utaibah, ia diberi julukan Al-Lahab karena dalam riwayat dijelaskan bahwa pipinya selalu memerah seakan-akan pipinya terbakar, karena arti dari kata Al-Lahab adalah api yang berkobar.
Sebagian ulama juga menjelaskan bahwa penamaan surat Al-Lahab bukan hanya merujuk pada nama Abu Lahab, akan tetapi hal itu juga menunjukkan balasan terhadapnya yang nantinya akan masuk ke dalam api yang berkobar di neraka. Oleh karena nama adalah do’a, maka sangat sesuai julukan yang diberikan kepadanya dan apa yang akan ia dapatkan.
2-Tabbat & Tabb
Pada ayat pertama surat ini, Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan “Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan sungguh ia akan binasa”. Kata binasa disebutkan dua kali, yaitu di awal dan akhir ayat ini, hal ini merupakan hinaan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Abu Lahab yang dengan keras menentang ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan seringkali ia menjadi provokator utama yang mengajak kaum Quraisy memusuhi serta mendengki Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa tangan Abu Lahab mendapat kecelakaan. Kata tangan di sini difahami oleh sebagian ulama merupakan simbol kejahatan, karena pada hakikatnya kata tangan bisa mewakili seluruh tubuh, dan kejahatan yang dilakukan manusia sering kali dimulai dari kejahatan tangan. Sebagian ulama yang lain menjelaskan bahwa kata tangan disini memang dimaksudkan untuk menghinakan tangan Abu Lahab yang tidak ragu-ragu mengganggu serta menghalau dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangannya.
3-Harta & usaha tidak berguna
Ayat kedua surat Al-Lahab menyatakan bahwa harta benda dan apa yang diusahakan Abu Lahab tidaklah berfaedah kepadanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman “tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan” (QS Al-Lahab : 2). Dalam tafsir Ibnu katsir dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan kata “apa yang ia usahakan” ialah anaknya. Sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Ibnu mas’ud, bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru kaumnya kepada Iman. Abu Lahab berkata, “jika apa yang dikatakan oleh keponakanku ini benar, maka sesungguhnya aku akan menebus diriku kelak di hari kiamat dari adzab dengan harta dan anak-anakku.” Maka turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala; tidaklah berfaedah kepadanya harta benda dan apa yang ia usahakan.
Orang-orang kafir memang pada dasarnya tidak akan mampu menebus siksaan nanti di akhirat dengan harta mereka, dan hal ini pula yang menimpa Abu Lahab.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman terkait hal ini;
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ أَنَّ لَهُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لِيَفْتَدُوا بِهِ مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang dibumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebusi diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih” (QS Al Maidah : 36).
Sebagaimana yang kita ketahui pula, harta dan anak tidak dapat menolong seorang hamba di hari kiamat nanti, kecuali harta yang ia belanjakan di jalan kebaikan dan juga anak shaleh yang mendoakan hamba tersebut.
4-Tewasnya ‘Utaibah
Di samping itu pula anak Abu Lahab yaitu ‘Utaibah justru tewas karena do’a Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dikisahkan bahwa ‘Utaibah selalu mengganggu Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Nabi mendoakan kecelakaan padanya, اَللّهُمَّ سَلِّطْ عَلَيْهِ كَلْبَكَ yang artinya, “Ya Allah kuasakanlah anjing-Mu kepadanya”. Maka suatu hari ‘Utbah pergi ke negeri syam dengan rombongan kafilah dagang, lalu merekapun mampir di suatu tempat. Ia pun berkata, “sesungguhnya aku takut dengan do’a Muhammad”. Teman-temannya yang lain berkata, “Jangan khawatir”. Mereka lalu meletakkan barang-barang mereka di sekitarnya, lalu mereka duduk menjaganya. Tiba-tiba ada seekor singa yang datang dan mencabutnya dari mereka dan membawanya pergi”. (HR. Al Hakim 2/588)
Semua anggota keluarga Abu Lahab mendapatkan kecelakaan, (wal ‘Iyadzu billah) istri, anak dan bahkan ia sendiri mendapatkan kecelakaan. Hal ini dikarenakan Abu Lahab benar-benar memusuhi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun Ia shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan keponakannya.
5- Al-Lahab
Ayat ketiga surat Al-Lahab menyebutkan bahwa kelak Abu Lahab akan masuk ke dalam Al-Lahab yang memiliki arti api yang bergejolak. Dalam Tafsir Ibnu katsir dijelaskan bahwa Al-Lahab ini ialah neraka yang apinya berbunga, menyala dengan hebatnya dan sangat membakar. Karena ayat ini turun pada awal-awal dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ayat ini memiliki mukjizat tersendiri yaitu meramalkAn-Nasib Abu Lahab.
Abu Lahab disebutkan dalam ayat ini akan masuk kedalam neraka, dan benar saja semasa hidupnya Abu Lahab dan keluarganya tidak henti-hentinya mengganggu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ia sangat jauh dari keislaman, Ia sangat kokoh dengan kekafirannya, dan bahkan semasa hidupnya ia tidak pernah berpura-pura meyakini agama Islam.
6-Arwah Binti Harb/ Ummu Jamil
Ayat keempat pada surat Al-Lahab ini berbunyi, yang artinya “dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Istri Abu Lahab juga diramalkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala pada ayat ini bahwa ia juga akan masuk kedalam neraka, dan benar saja. Istri Abu Lahab sama kerasnya dengan Abu Lahab dalam memerangi dakwah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Istri Abu Lahab memiliki al-‘Aura’ Ummu Jamil binti Harb, nama aslinya ialah Arwah Binti Harb (Saudara Abu Sufyan bin Harb) dan lebih dikenal dengan sebutan Ummu Jamil. Ummu Jamil merupakan orang yang sangat keras menentang ajaran islam, di dalam tafsir Al Muyassar disebutkan bahwa Ummu Jamil dahulu sering membawa duri lalu melemparkannya di jalan yang dilalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan maksud untuk menyakitinya.
Tarkait kata pembawa kayu bakar pada ayat ini, ada beberapa pendapat. Salah satu pendapat menyebutkan bahwa nanti di neraka Ummu Jamil akan membawa kayu bakar untuk menyiksa Abu Lahab, sehingga ini merupakan siksaan yang sangat menyakitkan bagi keduanya karena salah satu disiksa oleh malaikat dengan dibantu oleh satu lainnya. Pendapat yang lain menyebutkan bahwa Ummu Jamil merupakan orang yang suka mengadu domba/namimah sehingga kata kayu bakar di sini menandakan permusuhan yang mudah terbakar selayaknya kayu bakar. Seringkali ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah Abu Lahab mengompori kaum quraisy yang lain, dan begitu pula Ummu Jamil memprovokasi dengan namimahnya di kalangan masyarakat. Pendapat lain pula menyebutkan sebagaimana yang kami sebutkan tadi (tafsir al Muyassar) bahwa pada malam hari Ummu Jamil meletakkan kayu bakar dan duri di jalan yang biasa dilalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan niat agar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menginjak duri-duri itu.
Ayat kelima surat Al-Lahab menyebutkan bahwa Ummu Jamil memiliki tali di lehernya yang terbuat dari sabut. Dijelaskan dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa tali yang dimaksud pada ayat ini ialah kalung Ummu Jamil yang bernilai mahal, dan ia ingin menginfakkannya demi memusuhi dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu Allah membalasnya dengan memberikannya kalung yang terbuat dari api neraka Jahannam yang akan menyiksanya. (tafsir Ibnu Katsir 8/487) terdapat beberapa pendapat terkait kata tali dari sabut ini, namun sebagian besar pendapat merujuk pada kalung yang akan menyiksa Ummu Jamil nanti di akhirat sebagai balasan atas semua perbuatannya.
***
Semoga kita sebagai hamba-Nya Allah subhanahu wa ta’ala memiliki kecintaan yang semakin besar dan bertambah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga kita menjadi pribadi yang semakin gemar bershalawat kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta semakin semangat untuk mengikuti sunnah-sunnah Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aamiin Yaa Rabbal’aalamiin, Wallahu A’lam
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
~Dilan Laksaputra
Komentar
Posting Komentar